Kota Tangerang Selatan adalah calon
wilayah otonom di Provinsi Banten. Wilayah
ini merupakan pemekaran dari Kabupaten
Tangerang. Rencana ini berawal dari keinginan warga di wilayah
selatan untuk mensejahterakan masyarakat. Pada tahun 2000, beberapa
tokoh dari kecamatan-kecamatan mulai menyebut-nyebut Cipasera
sebagai wilayah otonom. Warga merasa kurang diperhatikan Pemerintah
Kabupaten Tangerang sehingga banyak fasilitas terabaikan.
Pada 27 Desember 2006,
Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang menyetujui
terbentuknya Kota Tangerang Selatan. Calon kota otonom ini terdiri atas
tujuh kecamatan, yakni, Ciputat,
Ciputat
Timur, Pamulang,
Pondok
Aren, Cisauk,
dan Setu.
Wilayah ini berpenduduk sekitar 966.037 jiwa.
Batas wilayah Kabupaten Tangerang dengan calon Kota Tangerang Selatan
segera ditetapkan. Demikian pula dengan pusat pemerintahan kota yang
baru terbentuk. Pengambilan keputusan mengenai kecamatan mana saja yang
masuk Tangerang Selatan juga masih dibicarakan. Rapat di masing-masing
fraksi yang diadakan sebelum rapat paripurna digelar sudah menunjukkan
alternatif pertama (lima kecamatan) yang disetujui fraksi besar seperti Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Golkar.
Fraksi
Partai Kebangkitan Bangsa memilih alternatif kedua, yakni enam
kecamatan yakni Ciputat, Cisauk, Pondok Aren, Pamulang, Serpong, dan
Pgedangan. Berdasarkan hasil voting, 21 anggota DPRD memilih alternatif
pertama sedang 14 orang memilih alternatif kedua. Hasil rapat paripurna
kemudian dibawa ke DPRD Propinsi Banten dan Menteri Dalam Negeri sebelum
dibahas di DPR-RI
serta ditetapkan dalam undang-undang.
Pada masa penjajahan Belanda, wilayah ini masuk ke dalam Batavia (sekarang Jakarta) dan
mempertahankan karakteristik tiga etnis, yaitu Suku
Sunda, Suku Betawi, dan Suku
Tinghoa.
Pada 22 Januari 2007,
Rapat Paripurna Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tangerang menetapkan Kecamatan Ciputat
sebagai pusat pemerintahan Tangerang Selatan. Dalam rapat yang dipimpin
Ketua DPRD Endang
Sujana, Ciputat dipilih secara aklamasi.
Sebelumnya, beberapa pihak, termasuk Bupati
Tangerang Ismet
Iskandar menyebut dua kecamatan yakni Ciputat dan Serpong sebagai
calon pusat pemerintahan Tangerang Selatan. Pelaksana Tugas Ketua
Panitia Khusus Kajian Rencana Pemekaran Wilayah R
Dahyat Tunggara menyatakan bahwa daerah Ciputat memiliki nilai
strategis dan memenuhi syarat menjadi ibukota. Presidium Pembentukan
Tangerang Selatan dan pemerintah induk Kabupaten
Tangerang sudah sepakat dengan keputusan ini.
Lokasi persis ibukota itu adalah Kelurahan
Maruga yang merupakan bekas Kantor
Kawedanan Ciputat dan dipakai sebagai kantor Kecataman Ciputat.
Pada rapat paripurna lanjutan, seluruh fraksi DPRD juga menyetujui
pemekaran tiga kecamatan baru di wilayah Tangerang bagian selatan.
Kecamatan baru itu adalah Kecamatan
Ciputat Timur (pemekaran dari Kecamatan Ciputat), Kecamatan
Setu (pemekaran dari Kecamatan
Cisauk), dan Kecamatan
Serpong Utara (pemekaran dari Kecamatan Serpong).
Sedang Kecamatan
Pondok Aren dan Kecamatan
Pamulang tidak ada pemekaran wilayah. Dengan demikian, jumlah
kecamatan di Kota Tangerang Selatan bertambah dari lima menjadi delapan
kecamatan.
Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 yang membahas soal
pemekaran daerah menyebutkan keputusan akhir rencana itu ada di DPR-RI.
Usul disampaikan melalui Gubernur kepada Menteri
Dalam Negeri, kemudian dikaji oleh Dewan
Pertimbangan Otonomi Daerah. Setelah disetujui, Mneteri Dalam
Negeri mengajukan kepada Presiden.
Kemudian, diajukan dalam bentuk rancangan undang-undang ke DPR-RI
untuk diputuskan.
Jumlah penduduk di wilayah ini lebih dari satu juta jiwa. Pamulang
dihuni 236.000 jiwa, sedang Ciputat dihuni 260.187 jiwa. Dari dua
kecamatan ini, jumlah penduduk 500.000 jiwa. Jika ditambah dengan
penduduk Serpong, Pondok Aren, dan Cisauk akan berjumlah lebih dari satu
juta jiwa. Sehingga, memenuhi syarat untuk suatu daerah otonom.
Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banten mulai membahas berkas
usulan pembentukan Kota Tangerang mulai 23 Maret 2007.
Pembahasan dilakukan setelah berkas usulan dan persyaratan pembentukan
kota diserahkan Gubernur
Banten Ratu Atut
Chosiyah ke Dewan pada 22 Maret 2007.
Pada 2007, Pemerintah Kabupaten Tangerang menyiapkan dana Rp 20
miliar untuk proses awal berdirinya Kota Tangerang Selatan. Dana itu
dianggarkan untuk biaya operasinal kota baru selama satu tahun pertama
dan merupakan modal awal dari daerah induk untuk wilayah hasil
pemekaran. Selanjutnya, Pemerintah Kabupetan Tangerang akan menyediakan
dana bergulir sampai kota hasil pemekaran mandiri.
Berdasarkan keputusan rapat paripurna DPR RI pada tanggal 29 Oktober
2008 Kota Tangerang Selatan disahkan dengan meliputi tujuh kecamatan
yakni Kecamatan Serpong, Kecamatan Serpong Utara, Kecamatan Pondok Aren,
Kecamatan Ciputat, Kecamatan Ciputat Timur, Kecamatan Pamulang dan
Kecamatan Setu dengan luas wilayah 147,19 kilometer persegi dan jumlah
penduduk (menurut data tahun 2007) sebanyak 918 ribu jiwa.
Sabtu, 28 Desember 2013
Cara Menulis Berita
Menulis berita adalah aktivitas
utama wartawan dan praktisi humas.
Namun, karena “everybody can be journalist” (tiap orang bisa jadi wartawan),
maka menulis berita bisa menjadi aktivitas siapa saja, terutama para
blogger dan aktivis media sosial yang suka berbagi dan berekspresi. By Romeltea.
BERITA (news) adalah laporan
peristiwa aktual yang dimuat di media massa. Menulis berita termasuk dalam
keterampilan komunikasi media (mass media communication), yakni
komunikasi melalui media massa.
Pedoman dasar cara menulis berita
yang baik dan “benar” –sesuai dengan kaidah jurnalistik dan kelaziman berita
media ada empat, yaitu unsur berita, piramida terbalik, bahasa
jurnalistik, dan struktur naskah berita.
Unsur
Berita
Menulis berita (news) itu
intinya adalah menyusun 5W+1H, yaitu enam unsur berita:
- WHAT (Apa yang terjadi, peristiwa apa)
- WHO (Siapa yang melakukan, pelaku, atau yang terlibat
dalam peristiwa)
- WHEN (Kapan kejadiannya, unsur waktu terjadinya
peristriwa)
- WHERE (Di mana kejadiannya, unsur tempat kejadian
peristiwa)
- WHY (Kenapa itu terjadi, kenapa si “who” melakukan itu,
penyebab peristiwa, latar belakang kejadian)
- HOW (Bagaimana proses terjadinya, kronologinya,
jalannya acara, detail peristiwa).
Piramida
Terbalik
Keenam unsur tersebut biasanya
disusun dengan formula atau gaya piramida terbalik (inverted pyramid),
yakni mengedepankan unsur terpenting atau dinilai paling penting. Biasanya
pula, yang dianggap terpenting adalah unsur WHAT dan WHO.
Bahasa
Jurnalistik
Keenam unsur berita tersebut disusun
sedemikian rupa dengan menggunakan bahasa jurnalistik, bahasa pers, newspaper
languange, atau bahasa komunikasi massa (mass communication language)
dengan karakteristik:
- Hemat kata (economy of words, ringkas).
- Lugas (to the point, tidak bertele-tele)
- Logis, mengacu pada formula SPOK (Subjek, Predikat,
Objek, Keterangan)
- Mudah dipahami
- Kalimat pendek
- Kalimat aktif.
Struktur
naskah berita
Paduan enam unsur berita
dan bahasa jurnalistik tersebut dirangkai dalam sebuah naskah
berita dengan struktur naskah berita sebagai berikut:
- Judul berita (head, headline, head title).
- Baris tanggal (creditline) –jika diperlukan
(opsional)
- Teras berita (lead, alinea pertama, paragraf
pertama, dalam 2-3 kalimat, biasanya terdiri dari unsur WHO, WHAT, WHEN,
dan WHERE).
- Isi berita (body, rincian, detail, memaparkan
unsur WHY dan HOW). (www.komunikasipraktis.com).***
Tips wawancara berita untuk wartawan
1. Jangan pernah memberikan daftar
pertanyaan kepada narasumber sebelum wawancara. Kita hanya boleh menyampaikan
“general idea” tentang tema wawancara, tapi jika terlalu spesifik, maka hal itu
akan membatasi Anda dalam bertanya saat wawancara.
2. Datang tepat waktu.
3. Selalu mengecek peralatan
wawancara –recoderder, baterai, dll. — dan memastikannya “working” sebelum
datang ke lokasi wawancara.
4. Perlakukan narasumber dengan baik
dan “respek”. Sikap hangat tapi tidak “over antusistis” merupakan awal yang
baik. Narasumber harus dihormati, apakah ia seorang presiden ataukah seseorang
di jalanan.
5. Usahakan memilih lokasi wawancara
yang kondusif, tidak terlalu brisik (too noisy) dan gangguan lainnya.
6. Anda bukan pusat perhatian. Anda
ada di sana untuk mendapatkan perspektif narasumber, bukan mau “menggurui”
narasumber.
7. Lakukan riset seperlunya, tapi
jangan gunakan semua hasil riset untuk menjadi pertanyaan.
8. Ajukan pertanyaan terpenting
lebih dulu
9. Wawancara itu sebuah obrolan (conversation), bukan konfrontasi.
Anda melakukan wawancara bukan untuk membuat narasumber tampak bodoh.Wawancara itu sebuah obrolan (conversation), bukan konfrontasi. Anda melakukan wawancara bukan untuk membuat narasumber tampak bodoh.
10. Usahakan tidak melihat ke catatan. Jika hal itu Anda lakukan, narasumber mungkin akan terganggu. Lagi pula, sulit bagi Anda untuk membaca dan mendengarkan dalam waktu yang sama.
11. Jaga kontak mata sepanjang wawancara. Lakukan bahasa tubuh, seperti mengangguk tanda mengerti, sehingga narasumber memahami bahwa Anda paham dan tidak perlu penjelasan lebih jauh.
12. Usahakan mengajukan maksimum tiga atau empat pertanyaan. Wawancara bukan ekspedisi memancing.
13. Hanya ada enam pertanyaan mendasar: Siapa? Apa? Di mana? Kapan? Bagaiamana? Kenapa? (Who? What? Where? When? How? Why?)
14. Pertanyaan pendek lebih baik. Jangan pernah mengajukan lebih dari satu pertanyaan dalam sekali nanya.
Pertanyaan pendek lebih baik. Jangan pernah mengajukan lebih dari satu pertanyaan dalam sekali nanya
15. Pastikan kebenaran fakta yang Anda punya. Tidak ada yang lebih buruk ketimbang Anda dikatakan salah oleh narasumver –terutama ketika wawancara live.
16. Dengarkan. Narasumber mungkin ingin menggunakan wawancara Anda untuk mengatakan sesuatu yang penting dan tidak terduga.
17. Jika narasumber tidak senang dengan cara mereka menjawab pertanyaan tertentu, jangan minta dia melakukannya lagi, kecuali ada kesalahan faktual dalam jawaban atau ada risiko kebingungan serius.
18. Di akhir wawancara, sesulit apa pun wawancara dilakukan, selalu ucapkan terima kasih.
19. Selalu cek wawancara sudah direkam sebelum narasumber pergi. Sangat sulit melakukan wawancara ulang jika ada kesalahan teknis.
Rabu, 25 Desember 2013
Pribadi yang Jujur Oleh Dr HM Harry Mulya Zein
Belakangan ini hampir semua media massa menyuguhkan pemberitaan pejabat
publik
yang tersangkut dalam tindak pidana korupsi. Sesungguhnya tindakan
korupsi yang dilakukan oleh oknum itu berawal dari sikap dan prilaku
hidup yang tidak jujur.
Menurut AA Gym, “Bohong itu adalah penjara bagi diri manusia,” betapa tidak, kebohongan akan membuat kita selalu was was, karena takut kebohongan kita diketahui, kita pun kembali berbohong untuk menutupi kebohongan kita itu.
Dan kebohongan baru yang baru saja kita reproduksi itu akan menjadi penjara baru. Demikianlah riwayat hidup orang yang hidupnya dipenuhi oleh dusta atau tidak jujur dalam bentuk apapun. Orang –orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran tidak akan pernah tenang dan tawadu dalam hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda; sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad, “Tidak ada ahlak yang paling dibenci Rosulullah, lebih dari bohong. Apabila beliau melihat seseorang berbohong dari segi apa saja, maka orang itu tidak keluar dari perasaan hati Rasulullah sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertobat.”
Dengan jujur sebenarnya kita merayakan kemerdekaan hidup dan mampu meraih kepercayaan dari orang lain. Menjadi pribadi al-amien. Pribadi yang terpercaya. Semakin kita tidak berdusta, semakin kita tidak terancam, dalam hal apapun. Orang-orang yang gelisah dan terkendalikan kepribadiannya adalah orang-orang yang senantiasa takut aib dan kebohongannya terbongkar.
Dan orang jujur tak pernah punya masalah dengan hal-hal yang demikian karena memang ia tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Lebih baik tersisih karena jujur ketimbang diterima karena kita dusta yang itu menyebabkan sepanjang waktu hidup kita dalam situasi menegangkan. Saling mendelik penuh curiga.
“Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta, dan hormat,” kata Imam Ali suatu kali. Bersabdalah Rasulullah SAW, “Sesungguhnya orang yang paling sering mempercayai adalah yang paling berkata juju, dan orang yang paling ragu adalah yang paling sering berbohong.”
Kebohongan juga pertanda bahwa adalah pribadi yang lemah. Menurut cendekiawan Raymond Peach, berbohong merupakan alat pertahanan terbaik dari si lemah dan caranya yang terbaik untuk menghindari bahaya. Dalam banyak hal, dusta adalah reaksi atas kelemahan dan kegagalan.
Pribadi yang jujur menjadi jangkar bagi pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kepribadian yang baik dan jujur tak lagi bekerja menurutkan kebutuhan nafkah, melainkan pengabdian kepada kemanusiaan.
Dan lebih dari semua itu, mereka yang bersemangat seperti ini memiliki segugus kebanggaan dengan kerjanya. Bahwa pekerjaannya memberi setitik harapan bagi terwujudnya kemaslahatan orang banyak, walau itu sebesar kerlipan kunang-kunang. Bila demikian adanya, pribadi yang jujurseperti ini memiliki rasa tanggung jawab yang mendalam bahwa apa yang dikerjakannya tak lain adalah tugas mulia untuk kemaslahatan manusia.
Menurut AA Gym, “Bohong itu adalah penjara bagi diri manusia,” betapa tidak, kebohongan akan membuat kita selalu was was, karena takut kebohongan kita diketahui, kita pun kembali berbohong untuk menutupi kebohongan kita itu.
Dan kebohongan baru yang baru saja kita reproduksi itu akan menjadi penjara baru. Demikianlah riwayat hidup orang yang hidupnya dipenuhi oleh dusta atau tidak jujur dalam bentuk apapun. Orang –orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran tidak akan pernah tenang dan tawadu dalam hidupnya.
Rasulullah SAW bersabda; sebagaimana yang diriwayatkan Ahmad, “Tidak ada ahlak yang paling dibenci Rosulullah, lebih dari bohong. Apabila beliau melihat seseorang berbohong dari segi apa saja, maka orang itu tidak keluar dari perasaan hati Rasulullah sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertobat.”
Dengan jujur sebenarnya kita merayakan kemerdekaan hidup dan mampu meraih kepercayaan dari orang lain. Menjadi pribadi al-amien. Pribadi yang terpercaya. Semakin kita tidak berdusta, semakin kita tidak terancam, dalam hal apapun. Orang-orang yang gelisah dan terkendalikan kepribadiannya adalah orang-orang yang senantiasa takut aib dan kebohongannya terbongkar.
Dan orang jujur tak pernah punya masalah dengan hal-hal yang demikian karena memang ia tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Lebih baik tersisih karena jujur ketimbang diterima karena kita dusta yang itu menyebabkan sepanjang waktu hidup kita dalam situasi menegangkan. Saling mendelik penuh curiga.
“Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan tiga hal: kepercayaan, cinta, dan hormat,” kata Imam Ali suatu kali. Bersabdalah Rasulullah SAW, “Sesungguhnya orang yang paling sering mempercayai adalah yang paling berkata juju, dan orang yang paling ragu adalah yang paling sering berbohong.”
Kebohongan juga pertanda bahwa adalah pribadi yang lemah. Menurut cendekiawan Raymond Peach, berbohong merupakan alat pertahanan terbaik dari si lemah dan caranya yang terbaik untuk menghindari bahaya. Dalam banyak hal, dusta adalah reaksi atas kelemahan dan kegagalan.
Pribadi yang jujur menjadi jangkar bagi pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kepribadian yang baik dan jujur tak lagi bekerja menurutkan kebutuhan nafkah, melainkan pengabdian kepada kemanusiaan.
Dan lebih dari semua itu, mereka yang bersemangat seperti ini memiliki segugus kebanggaan dengan kerjanya. Bahwa pekerjaannya memberi setitik harapan bagi terwujudnya kemaslahatan orang banyak, walau itu sebesar kerlipan kunang-kunang. Bila demikian adanya, pribadi yang jujurseperti ini memiliki rasa tanggung jawab yang mendalam bahwa apa yang dikerjakannya tak lain adalah tugas mulia untuk kemaslahatan manusia.
Oleh Dr HM
Harry Mulya Zein
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/12/20/my3drl-pribadi-yang-jujur
KESEHATAN: Risiko Stroke Turun Jika Jalan Kaki Lebih Lama, Bukan Lebih Cepat
Manfaat olahraga ringan seperti jalan kaki memang
telah lama
diakui, salah satunya menurunkan risiko stroke. Namun sebuah studi
menemukan
manfaat itu baru terasa jika seseorang menghabiskan lebih banyak waktu
untuk
jalan kaki, bukan sekadar jalan cepat saja.
Menurut peneliti hanya dengan berjalan kaki sedikitnya satu hingga dua jam sehari maka risiko stroke pada orang-orang berusia 60-an tahun akan berkurang. Tapi olahraga jalan kaki yang dimaksud bukanlah jalan kaki yang membutuhkan banyak tenaga atau berkecepatan tinggi, melainkan yang biasa saja.
Fakta ini telah dibuktikan peneliti dengan mengamati 3.435 pria berusia 60-80 tahun yang ditanyai tentang jarak yang mereka tempuh untuk berjalan kaki setiap minggunya dan kecepatan yang mereka pakai biasanya.
Seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (16/11/2013), ternyata partisipan yang rutin jalan kaki selama 8-14 jam per minggu kemungkinannya sepertiga lebih kecil untuk mengidap stroke ketimbang partisipan yang berjalan kaki kurang dari tiga jam seminggu. Bahkan bagi pria yang berjalan lebih dari 22 jam per minggu, risikonya mencapai dua per tiga lebih rendah.
"Jadi jika Anda terus mengamati 1.000 pria yang rutin jalan kaki 8-14 jam perminggu selama 10 tahun, rata-rata mereka hanya akan mengalami 55 kali stroke, tapi bagi kelompok yang hanya berjalan kaki tiga jam perminggu strokenya bisa sampai 80 kali," terang peneliti Dr Barbara Jefferis dari University College London.
"Itu berarti waktu total yang dihabiskan untuk berjalan kaki dapat memberikan perlindungan yang lebih konsisten melawan stroke daripada kecepatannya; dan secara keseluruhan tampaknya semakin lama waktu yang dihabiskan untuk jalan kaki, maka manfaatnya semakin besar," imbuhnya.
Dr. Shannon Amoils dari British Heart Foundation pun sepakat dengan temuan studi ini dan menimpali, "Berapapun usia Anda, penting untuk tetap aktif sepanjang hari. Dan studi ini memperlihatkan bahwa jalan kaki setiap hari dapat membantu mengurangi risiko stroke Anda. Setidaknya olahraga rutin, bahkan seperti jalan-jalan di taman saja bisa jadi cara efektif agar seseorang tetap sehat."
Menurut peneliti hanya dengan berjalan kaki sedikitnya satu hingga dua jam sehari maka risiko stroke pada orang-orang berusia 60-an tahun akan berkurang. Tapi olahraga jalan kaki yang dimaksud bukanlah jalan kaki yang membutuhkan banyak tenaga atau berkecepatan tinggi, melainkan yang biasa saja.
Fakta ini telah dibuktikan peneliti dengan mengamati 3.435 pria berusia 60-80 tahun yang ditanyai tentang jarak yang mereka tempuh untuk berjalan kaki setiap minggunya dan kecepatan yang mereka pakai biasanya.
Seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (16/11/2013), ternyata partisipan yang rutin jalan kaki selama 8-14 jam per minggu kemungkinannya sepertiga lebih kecil untuk mengidap stroke ketimbang partisipan yang berjalan kaki kurang dari tiga jam seminggu. Bahkan bagi pria yang berjalan lebih dari 22 jam per minggu, risikonya mencapai dua per tiga lebih rendah.
"Jadi jika Anda terus mengamati 1.000 pria yang rutin jalan kaki 8-14 jam perminggu selama 10 tahun, rata-rata mereka hanya akan mengalami 55 kali stroke, tapi bagi kelompok yang hanya berjalan kaki tiga jam perminggu strokenya bisa sampai 80 kali," terang peneliti Dr Barbara Jefferis dari University College London.
"Itu berarti waktu total yang dihabiskan untuk berjalan kaki dapat memberikan perlindungan yang lebih konsisten melawan stroke daripada kecepatannya; dan secara keseluruhan tampaknya semakin lama waktu yang dihabiskan untuk jalan kaki, maka manfaatnya semakin besar," imbuhnya.
Dr. Shannon Amoils dari British Heart Foundation pun sepakat dengan temuan studi ini dan menimpali, "Berapapun usia Anda, penting untuk tetap aktif sepanjang hari. Dan studi ini memperlihatkan bahwa jalan kaki setiap hari dapat membantu mengurangi risiko stroke Anda. Setidaknya olahraga rutin, bahkan seperti jalan-jalan di taman saja bisa jadi cara efektif agar seseorang tetap sehat."
http://health.detik.com/read/2013/11/16/090322/2414755/763/risiko-stroke-turun-jika-jalan-kaki-lebih-lama-bukan-lebih-cepat?l771108bcj
Langganan:
Postingan (Atom)

